Apa Itu: Pro[j]ek Mimpi

Foto saya
Jakarta, Indonesia
Selama mimpi ngga harus dibeli, jangan takut rugi menaruh hati pada keyakinan diri. Yakini dan miliki! |a reality book and workshop project by Bernadette Irene @blessedirene - seorang penulis kertas dunia maya,metalhead dan bekerja untuk tujuan kemanusiaan Motor penggerak kami adalah: ANDA dan jutaan pemimpi-pemimpi besar lainnya yang menginspirasi kami. Mari bermimpi - karena tidak ada mimpi yang kembali dengan sia-sia. Awal mewujudkan mimpi adalah dengan menuliskan mimpi itu sendiri. Kirimkan tulisan berisi mimpi kalian dalam format digital (.doc, .rtf atau .txt) ke projekmimpi@gmail.com Tulisan yang paling unik, inspiratif dan membawa motivasi bagi banyak orang akan dibukukan dalam "Pro[J]ek Mimpi" dan selanjutnya dipresentasikan ke dewan publik yg terdiri dari orang-orang awam,publik figur dan juga calon sponsor yang boleh jadi menjadi salah satu jalan untuk membantu mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Tidak ada batas waktu pengiriman tulisan. Mari bermimpi dan retaskan mimpimu dalam deretan aksara!

Jumat, 04 November 2011

"Konsisten dan Komitmen" [Muhammad 'BetoPe' Arfah]

Celupan mimpi sang Liasion Officer

Pemimpi berikutnya yang berhasil kami hampiri dalam perjalanan awal Pro[j]ek Mimpi adalah seorang pria yang baru saja resmi menjadi ayah sebulan lalu. Nama yang disematkan di hari kelahirannya boleh jadi tak banyak dikenal publik, Muhammad Arfah. Namun dengan petuah yang entah didapat dari mana, munculah nama 'panggung' Beto.

Bicara soal kenapa kami menyebutnya nama 'panggung', ia bukanlah seorang selebritis yang kerap beraksi di atas panggung. Namun tangan dinginnya membuat banyak band berhasil mendapat panggung dan deretan band-band yang tadinya hanya bisa didengar atau ditonton via streaming dan deretan DVD bajakan kini muncul di depan mata dan membuat para headbangers  bersorak kegirangan.

Jalanan memang akan selalu berlubang, apalagi di negara tercinta. Sama halnya dengan kehidupan para pemimpi, termasuk Beto. Masa lalunya tak kalah hitam dengan baju-baju metalnya. Orang tua yang kerap memberi 'hadiah' yang mengejutkan membuat batinnya mengalami tekanan. Bagaimana tidak, segala macam bingkisan pernah dicicipinya. Mulai dari pecutan lidi sampai raket dan nyaris disembelih (ya, dalam arti sebenarnya layaknya hewan yang akan menjadi pengisi perut yang keroncongan).

Bukan manusia bila tahan terus diinjak. Kesenangan remaja (dalam bentuk kenakalan jajan obat-obatan) menjadi pemuas perasaan. Meski begitu, masih ada energi positif yang disimpannya. Prinsipnya adalah, kenakalan adalah pengalaman selama tidak menyusahkan [orang lain]. Itu adalah perkataan satirnya untuk para pecinta 'senang-senang' yang memilih untuk menggunakan namun ujungnya hanya menyusahkan.

Aparat berbaju cokelat nampaknya terlalu gatal tangannya untuk membiarkan ia tak terjerat. Bangku kuliah harus ditinggalkannya lantaran teralis besi berlantai dingin menantinya untuk menjadi hotel gratis sebelum masa pembersihan dimulai.

Langit tak akan selalu gelap dan terang bisa datang kapan saja. Setelah pembersihan di pondokan dilakukan [dengan terapi dedaunan dan terapi dzikir] pencipta semesta memberi kesempatan untuknya kembali memasuki dunia yang dalam versinya disebut sebagai kehidupan fana dan hina.

Kembali ke bangku kuliah, sembat beberapa kali membuatnya nyaris turut tercebur ke kubangan masa lalu akibat pengaruh teman seperkumpulan. Namun pada waktu itu ada keasyikan baru[walaupun masih dalam bentuk ilegal], membuat radio sendiri. Dengan modal komputer tempur dan pemancar alakadabra, Beto mendirikan radio tanpa nama. Memutar lagu-lagu dan akhirnya menerima request sebelum berbuah iklan dari tukang bakso dan bahan bangunan. Meski akhirnya harus rela memreteli semua perangkatnya demi alasan perdamaian dengan pihak-pihak yang menginginkan legalitas berbalut komersialitas.

Menjadi mahasiswa sudah, membuat Beto tak sabar lagi untuk bebas tak terikat jadwal mata kuliah dan bebas mengais rupiah.  Kecintaannya terhadap musik berhasil membawanya masuk dalam suatu kotak pekerjaan yang memuaskan hasratnya terhadap musik dan membuat dapurnya tetap mengepul.

Berawal dari mengurusi Napalm Death (2005) dengan modal Bahasa Inggris (yang menurutnya belepotan) namun berhasil menjadikannya pede ketika menatap seorang penjual pulsa di mall ibukota yang bercakap-cakap dengan bule dengan pedenya tanpa peduli benar salahnya. Bersambung dengan menemani Kreator yang juga sukses memekakan telinga para metalhead di tahun yang sama.

Tahun-tahun berikutnya bisa jadi menjadi awal meroketnya nama Beto. mulai dari menemani Pukelization (2006), di tahun yang sama juga sukses menemani Blindhate, Disgorge dan Dawn of Azazel.

Meroketnya pamor Beto juga membuatnya mendapat tawaran untuk memanajeri band-band lokal. Sembari masih bekerja mensupport kedatangan band-band underground internasional, dengan gayanya yang super unik [rasanya hanya ia yang mampu mengajak musisi bule yang notabene musisi tiga jari semua makan jengkol dan minum anggur Tjap Orang Toea].

Caliban

Bleeding Through
Jamey Jasta - HATEBREED
MXPX dan kru


Delapan tahun dengan payung yang sama menemani band-band cadas internasional nampaknya tidak membuat Beto puas. Rasa penasaran untuk mengais mimpi lebih dalam lagi setelah menikah di 2010 [salah satu pencapaian yang tadinya hanya ada di angan-angan] membawanya ke 'kotak baru' walau masih berada di lingkaran yang sama.

Spirit yang dibawa Kurt Cobain dan Nirvana menjadi penyemangat dalam menjalani hari-hari barunya. Ditambah lagi suntikan semangat dari Bob Sadino dan Ahmadinejad menjadikannya memiliki roket tambahan untuk kehidupannya. Plus kelahiran anak pertamanya Gleno Matta Bilfalay pada 25 September 2011 lalu yang sukses menggetarkan hatinya.

Bila berkesempatan untuk dilontarkan ke masa lalu maka kisaran 400M adalah era yang paling didambanya. Tanpa teknologi modern, dan pada masa itu nabi masih hidup.  Ketenangan adalah salah satu mimpi pria penyuka kucing ini.

Mimpi masa depannya yang ingin kembali dipompa adalah menjadi pengusaha. Bakat bisnis sejak masih berseragam putih merah sudah dipupuknya. Dari berjualan permen hingga mengembangkan bisnis clothing berlogo #Shit yang dibuatnya sebagai wujud kekesalan terhadap orang-orang yang kepalanya cepat membesar seperti tabung televisi puluhan inci.

Berbekal prinsip konsisten dan komitmen, dibantu dengan do'a dan izinNya, masa lalunya sudah tak lagi dipandang orang. Berganti menjadi hal-hal yang banyak dimimpikan orang. Boleh jadi, ini berkat kuotasi yang selalu dipegangnya meski ia mengaku belum berhasil melakukannya 'Belajar Mati Sebelum Mati' dari Asy Syekh Syarif Abdullah Al Banteni. Ra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar